Page 1 (data 1 to 15 of 15) | Displayed ini 30 data/page
Corresponding Author
Ika Maruya Kusuma
Institutions
1Institut Sains dan Teknologi Nasional: Laboratorium Fitokimia, Farmasi, Fakultas Farmasi, ISTN, Jakarta
2Institut Sains dan Teknologi Nasional: Laboratorium Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, ISTN, Jakarta
Abstract
Allupurinol obat asam urat yang bersifat urikostatik. Jangka panjang allopurinol dapat menyebabkan gagal hati, hepatitis, diare, konstipasi, mual, muntah dan eksim. Ekstrak daun murbei 250 mg/kg BB (M250), 500 mg/kg BB (M500) dan 750 mg/kg BB (M750) diketahui dapat menurunkan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sirup ektrak daun murbei M250, M500 dan M750 dapat menurunkan kadar asam urat dan memiliki stabilitas fisik yang baik. Ekstrak etanol daun murbei diuji fitokimia, dibuat sirup simplek dan diperiksa organoleptik, pH, homogenitas dan viskositasnya. Hewan uji yang digunakan 24 ekor mencit jantan, dengan 6 kelompok. Mencit diberi makan hati ayam segar hingga hiperurisemia, kemudian diberi sirup ektrak daun murbei dengan perlakuan M250, M500, M750 kontrol allopurinol dan Na CMC. Kadar asam urat darah diukur tiap jam ke 1; 1,5; 2; 2,5 dan 5. Hasil: ekstak daun murbei memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Organoleptik sirup ekstrak daun murbei cair, hijau dan manis, dengan pH 4,2 - 4,5; bersifat homogen. Kesimpulan: sirup ekstrak daun murbei menurunkan kadar asam urat pada dosis M250 (32%), M500 (53%) dan M750 (41%), yang tidak berbedanyata dengan kontrol allopurinol 61% (p>0.05). Sirup ektrak daun murbei dapat diformulasi dan memiliki stabilitas fisik yang baik.
Keywords
Asam urat, ektrak daun murbei, mencit jantan, sirup
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Fransiska Christydira Sekaringtyas
Institutions
Center of Pharmaceutical and Medical Technology, Agency for The Assessment and Application of Technology
Abstract
Dry extract of binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) has been known to have several pharmacological activities, one of those is antidiabetic and has been developed as alternative medicine. Making the dry extract by adding fillers could shorten the drying time and increase the shelf life of extract. This study is aimed to determine the type and ratio of fillers to the characteristics of binahong dry extract, thus the optimum formula is obtained using response surface methodology. The fillers which is used include corn starch, amprotab, microcrystalline cellulose (MCC) 102, dextrin, lactose, and maltodextrin. The results showed that the ratio of extract : MCC : amprotab 1 : 0.5322: 0.9978 was the optimum formula of binahong dry extract. Appearance of binahong dry extract was dark green to brown dry powder with characteristic odor and bitter taste. The characterization results include loss of drying of 8.36% ± 0.14%, water content 6.42% ± 0.42%, angle of repose 12.14° ± 1.63°, and total phenolic content 1.83% ± 0.30%. From the results of the study, it can be concluded that the combination of MCC and amprotab provides good characteristics of binahong dry extract with optimum total phenolic content. The prototype of binahong dry extract which has been characterized could be combined with other extract, which are expected to be an alternative treatment and also increase its pharmacological activity.
Keywords
Dry extract, Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), Amprotab, Microcrystalline cellulose
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
amelia febriani
Institutions
Intitut Sains dan Teknologi Nasional
Abstract
Daun afrika mengandung tanin, flavonoid dan alkaloid yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian untuk memformulasi dan mengetahui aktivitas antibakteri sabun mandi padat yang mengandung ekstrak etanol daun afrika (Vernonia amygdalina Delile). Sabun mandi padat dibuat dengan metode cold process menggunakan NaOH serta campuran minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, minyak biji bunga matahari dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak sebesar 1% (F1) , 3% (F2) dan 3% (F3). Sabun padat yang dihasilkan kemudian dilakukan evaluasi diantaranya yaitu uji organoleptik, uji pH, uji kadar air, uji asam lemak bebas, uji kekerasan, uji stabilitas busa, persentase busa yang hilang, uji hedonik dan uji aktivitas antibakteri. Hasil evaluasi menunjukkan pH sabun 9,37 - 9,72, kadar air 9,78% - 11,33%, asam lemak bebas 0,14% - 0,2%, kekerasan 18-21 mm/detik, tinggi busa 2,2 - 2,3 cm. Uji hedonik menunjukkan responden lebih menyukai F1 dinilai dari bentuk, aroma, warna, kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan, dan kenampakan keseluruhan sabun. Hasil uji antibakteri menunjukkan F3 memiliki diameter daya hambat terbesar yaitu 13,83 mm. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sabun mandi padat ekstrak etanol daun afrika memiliki aktivitas antibakteri dan memenuhi mutu fisik sesuai syarat SNI No 3532-2016 tentang mutu sabun
Keywords
daun afrika, sabun padat, antibakteri, Staphylococcus aureus
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Ari Widayanti
Institutions
UHAMKA
Abstract
Biji klabet mengandung polifenol yang dapat berfungsi sebagai antioksidan alami. Polifenol merupakan senyawa yang bersifat polar dan berpartikel besar sehingga mempunyai keterbatasan dengan tingkat penetrasi yang buruk ke dalam membran biologis yang kaya akan lipid. Teknologi fitosom dapat meningkatkan penetrasi zat aktif ke permukaan kulit dengan terbentuknya nanovesikel dan mempunyai profil stabilitas yang lebih baik dibandingkan ekstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fitosom terhadap stabilitas fisik masker peel-off. Fitosom yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dengan metode hidrasi lapis tipis dengan perbandingan ekstrak dan lesitin 1:1 (F1) dan 1:2 (F2). Masker peel-off terdiri dari 4 formula yaitu Formula I (tanpa ekstrak dan fitosom), formula II (dengan ekstrak), formula III (dengan fitosom F1), dan formula IV (dengan fitosom F2). Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa formula masker peel-off yang mengandung fitosom lebih stabil ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan secara organoleptis dan pemisahan fase serta tidak adanya perubahan pH dan viskositas yang signifikan. Berdasarkan analisa statistik pH dan viskositas dengan anava dua arah dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) didapatkan hasil adanya perbedaan pH dan viskositas antara formula I, II, III dan IV dan dapat dikatakan bahwa penggunaan ekstrak ataupun fitosom dalam formulasi sediaan mempengaruhi peningkatan pH dan viskositas masker peel off.
Keywords
Biji Klabet, Fitosom, Masker Peel-Off, Stabilitas.
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Rahmat Santoso
Institutions
Fakultas Farmasi
Universitas Bhakti Kencana
Bandung
Jl Soekarno Hatta No. 754 Bandung
Abstract
Minuman siap saji/instan merupakan salah satu produk olahan pangan yang berbentuk serbuk, mudah larut dalam air, praktis dalam penyajian dan memiliki daya simpan yang lama. Minuman siap saji ini umumnya digunakan oleh semua kalangan dari mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa yang sebagian besar menyukai minuman. Kualitas minuman serbuk siap saji ini mengacu pada standar mutu SNI 01-4320-1996 tentang syarat mutu serbuk minuman tradisional. SNI tersebut mensyaratkan warna, bau dan rasa yang normal, kadar air maksimal 3%, kadar abu maksimal 1,5%, jumlah gula minimal 45% dan syarat mutu lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif dan solusi untuk membuat minuman siap saji dengan bahan dasar yang sering kita konsumsi dari hasil budidaya oleh masyarakat atau tumbuh sendiri. Bahan dasar tersebut yaitu dibuat dari daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) yang diekstraksi dengan cara digesti, campuran pati singkong dan pati kelapa, serta gula aren semut. Penggunaan pemanis gula pasir, digunakan juga sebagai kombinasi dengan gula aren semut. Dibuat lima formula ekstrak daun binahong dengan campuran pati dan kombinasi pemanis, menggunakan teknologi tepat guna sferonizer dengan 1.400 rpm dalam waktu 4 menit. Tahapan proses pembuatan minuman instan adalah : ekstruksi – sferonisasi – pengeringan – pengemasan, serta evaluasi partikulat secara umum (laju alir, distribusi ukuran partikel, uji kadar air, dan uji hedonik) Hasil menunjukkan bahwa formula 4 dengan komposisi ekstrak daun binahong 240 g, campuran pati singkong dan pati kelapa sama banyak 200 g, serta campuran gula aren semut dan gula pasir sama banyak 200 g, disukai oleh mayoritas responden, begitu juga dengan uji laju alir, uji distribusi ukuran partikel, dan uji kadar air memperlihatkan hasil yang signifikan. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, utamanya dalam peningkatan kapasitas dari skala laboratorium ke skala pilot, serta penyempurnaan desain teknologi sferonizer.
Keywords
Ekstrak daun binahong, kombinasi pati dan pemanis alami, teknologi sferonisasi
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Deni Rahmat
Institutions
Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12640, Indonesia
Abstract
Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk pengobatannya yaitu nanas Palembang (Ananas comosus.(L.) Merr.). Dalam penelitian ini, telah dibuat tablet yang mengandung nanopartikel crude bromelin dari bonggol nanas. Untuk mendapatkan crude bromelin dilakukan ekstraksi dengan prinsip salting in and salting out. Crude bromelin yang telah mengendap diambil dan dikeringkan dengan metode freeze drying. Kemudian memformulasikan menjadi sediaan suspensi nanopartikel dengan metode gelasi ionik menggunakan tiomer HPC-sisteamin. Setelah didapat suspensi nanopartikel dilakukan pengeringan dengan metode freeze drying. Tablet dibuat dengan metode cetak langsung dengan pengisi avicel. Dari pembuatan suspensi nanopartikel didapatkan ukuran 203,1 nm dengan indeks polidispersitas 0,446. Bobot tablet crude bromelin dan nanopartikel yang dihasilkan mempunyai rentang 504,24±0,71 mg dan 53,31±0,26 mg, sedangkan waktu hancur keduanya 21,18 dan 9,67 menit, kekerasan keduanya 5,479 dan 1,268 Kg/cm2 dan friabilitas keduanya 0,06 dan 0,09%, berturut-turut. Dengan demikian formulasi tablet merupakan sediaan yang potensial untuk formulasi crude bromelin yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas crude bromelin.
Keywords
Crude bromelin, nanopartikel, tablet, tiomer, HPC-sisteamin
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Hanifah Rahmi
Institutions
(1)Faculty of Pharmacy and Science, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Abstract
Green tea (Camellia sinensis (L.) Kuntze) leaf have polyphenol substance that can for inhibitory of tyrosinase enzyme. Tyrosinase enzyme is the one of important component that can be initiated to formation skin of melanin. Green tea leaf was formulated in dosage form of a gel with carbomer 934 as a gelling agent. This study aimed to determine the activity of tyrosinase enzyme with different concentrations of carbomer 934 in green tea leaf extract gel. This research used three carbomer 934 concentration, the first formula was 0.5%, the second was 0.75% and the last formula was 1%. Which every formula was evaluated during 6 weeks involve organoleptic test, homogeneity test, viscosity test, pH test, centrifuge test and freeze-thaw test (during 6 cycles). The optimum formula was evaluated tyrosinase activity used a spectrophotometer. The results showed that the optimum concentration of carbomer 934 was contained on the first formula which has not to phase separation and IC50 value was 49.62 ppm. This research showed that green tea leaf extract gel with carbomer 934 decreased tyrosinase activity.
Keywords
carbomer 934, green tea leaf extract, gel, inhibitory of tyrosinase
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Teodhora Teodhora
Institutions
Institut Sains dan Teknologi Nasional, Fakultas Farmasi, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Jl. M. Kahfi II, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Abstract
Physalis angulata L. merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi basis HPMC terhadap mutu fisik gel dan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, selain itu untuk mengetahui konsentrasi basis HPMC yang sesuai dalam gel ekstrak daun Physalis angulata L. untuk memperoleh gel dengan mutu fisik dan aktivitas antibakteri yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun Physalis angulata L. pada penggunaan variasi basis HPMC tidak mempengaruhi mutu fisik organoleptik, homogenitas, pH dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan mempengaruhi mutu fisik viskositas, dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Gel ekstrak daun Physalis angulata L. dengan menggunakan konsentrasi HPMC 4% menghasilkan gel dengan mutu fisik dan aktivitas antibakteri yang optimal terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, dengan daya hambat yang diperoleh yaitu sebesar 12,7 mm dan 12,9 mm.
Keywords
Gel, HPMC, Physalis angulata L., Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
siti sadiah
Institutions
1Divisi Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Bogor
2Pusat Studi Biofarmaka Tropika, LPPM IPB University, Bogor
3Program Studi Farmasi, FMIPA Universitas Pakuan, Bogor
Abstract
ABSTRAK Brotowali adalah tanaman obat yang secara empirik digunakan sebagai “paitan” dalam sediaan Jamu karena rasanya yang sangat pahit. Rasa pahit batang brotowali karena kandungan alkaloid dan glukosida diantaranya kolombin, tinosporine, tinosproridine, pricroretine dan berberin. Manfaat brotowali secara empirik digunakan sebagai anti diabetes dan antihipertensi. Hasil penilitian secara in vivo, brotowali terbukti dapat menurunkan deman, antiinflamasi dan juga antioksidan. Meskipun manfaatnya banyak namun karena rasa pahitnya yang kuat sering tanaman obat ini tidak disukai sebagian besar penderita. Penelitian ini dilakukan untuk mengupayakan penutupan rasa pahit dari ekstrak brotowali dengan teknik mikroencapsulasi menggunakan alat semprot beku (frezee drying). Penyalut yang digunakan adalah polimer kitosan dengan variasi kitosan sambung silang. Hasilnya diperoleh komposisi yang secara signifikan dapat menutupi rasa pahit dibandingkan terhadap ekstrak dan serbuk brotowali dengan karakteristik mikrokapsul yang baik.
Keywords
Brotowali, Tinospora crispa, kitosan, mikroencapsulasi, pahit
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Delladari Mayefis
Institutions
STIKes Mitra Bunda Persada Batam
Abstract
Luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan kulit yang disebabkan oleh benda panas, sengatan listrik, bahan kima ataupun radiasi. Herba pegagan dan lidah buaya merupakan tanaman yang dikenal mempunyai khasiat menyembuhkan luka bakar. Pegagan memiliki kandungan komponen bioaktif triterpenoid yaitu asiaticoside, madecassocide dan madeccasic acid yang dapat menyembuhkan luka bakar dan juga memperbaiki sel-sel kulit mati. Lidah buaya mengandung saponin, senyawa antrakuinon, vitamin C dan vitamin E sebagai antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian gel kombinasi ekstrak herba pegagan dan lidah buaya terhadap penyembuhan luka bakar. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental pada 25 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol positif diberikan Bioplacenton, kelompok kontrol negatif diberikan gel tanpa ekstrak dan 3 kelompok uji yang lain diberikan masing-masing gel kombinasi ekstrak herba pegagan dan lidah buaya konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Pemberian gel dilakukan sebanyak dua kali sehari hingga luka bakar pada punggung mencit sembuh. Pengamatan meliputi rata-rata diameter luka bakar perhari dan persentase penyembuhannya. Hasil penyembuhan paling cepat ditunjukkan pada kelompok yang diberikan gel kombinasi konsentrasi 15% yaitu dalam waktu 10 hari. Hasil analisis statistik menggunakan uji ANOVA satu arah menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara rata-rata nilai persentase antar kelompok.
Keywords
Pegagan, Lidah Buaya, luka bakar
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Dina Rahmawanty
Institutions
1,2,3Program Studi Farmasi,FMIPA,Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru
dinarahmawanty[at]gmail.com
Abstract
ABSTRACT Bangkal stem bark (N. subdita) contains secondary metabolite compounds from polyphenols such as flavonoids, saponins, steroids, and tannins which have the potential as natural antioxidants. Antioxidants have a function to protect the body from the bad effects of free radicals that can cause skin damage. This study aimed to determine the IC50 value of methanolic extracts of Bangkal stem bark before being formulated with after being formulated into antioxidant lotions and to determine effect of emulgator concentration to antioxidant activity of lotion. In this study lotion was formulated with different concentration of stearic acid : FI (2%), F2 (3%) & FII (5%). Determination of antioxidant activity was carried out using the DPPH method and ascorbic acid as a comparison. The result of IC50 value of methanolic extract of N. subdita stem bark is 34.1787 ± 0.2781 ppm, which is classified as a very active antioxidant. The result shows that the increase of stearic acid concentration affect the antioxidant activity, the higher concentration of stearic acid, the greater IC50 value. The results for lotions FI,FII& FIII IC50 value are 61.5593 ± 0.2673 ppm, 66.8051 ± 0.2317 ppm & 72.6253 ± 2.3117 ppm, respectively. All formulas have IC50 range 50-100 ppm which are classified as active antioxidants. Based on the research it can be conclude that the methanolic extract of N. subdita stem bark has a very active antioxidant activity and the lotions classified as active antioxidant. Keywords : Antioxidant, Lotion, Emulgator, Bangkal (Nauclea subdita) ABSTRAK Kulit batang bangka (N. subdita) mengandung senyawa metabolit sekunder dari golongan polifenol seperti flavonoid, saponin, steroid, dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Antioksidan memiliki fungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh buruk radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai IC50 ekstrak metanol kulit batang bangkal sebelum diformulasikan dengan sesudah diformulasikan menjadi lotion antioksidan dan menentukan pengaruh konsentrasi emulgator terhadap aktivitas antioksidan lotion. Dalam penelitian ini lotion diformulasikan dengan variasi konsentrasi asam stearat yaitu FI (2%), F2 (3%) & FII (5%). Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH dan asam askorbat sebagai pembanding. Hasil nilai IC50 ekstrak metanol kulit batang N. subdita yaitu 34,1787 ± 0,2781 yang tergolong sebagai antioksidan sangat aktif. Hasil peneltian menunjukkan peningkatan konsentrasi asam stearat mempengaruhi aktivitas antioksidan, semakin tinggi konsentrasi asam stearat semakin besar nilai IC50. Hasil IC50 lotion pada FI, FII & FII berturut-turut 61,5593±0,2673 ppm, 66,8051 ± 0,2317 ppm & 72,6253 ± 2,3117 ppm. Ketiga formula memiliki rentang nilai IC50 50-100 ppm yang tergolong sebagai antioksidan aktif. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol kulit batang N. subdita
Keywords
Antioksidan, Lotion, Emulgator, Bangkal (Nauclea subdita)
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Rosany Tayeb
Institutions
1Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University, Indonesia
Abstract
Penggunaan kombinasi obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap (OAT-KDT) yang terdiri dari Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol dan Pirazinamida sebagai lini pertama pengobatan tuberkulosis dapat menimbulkan efek yang merusak organ seperti hati dan ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian sediaan Tea Bag daun Paliasa (Kleinhovia hospita L.) terhadap salah satu faktor kerusakan hati yakni Malondialdehida (MDA) pada tikus yang diinduksi dengan OAT-KDT. Sebanyak 15 ekor tikus (Rattus norvegus) dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri atas 3 ekor. Kelompok I diberikan 1% NaCMC sebagai control negatif. Kelompok II diberikan suspensi OAT-KDT 178 mg/200 g BB dalam NaCMC. Kelompok III diberikan sediaan tea bag Paliasa kemudian diberikan suspensi OAT-KDT 4 jam setelah pemberian sediaan tea bag Paliasa. Kelompok IV diberikan sediaan tea bag Paliasa pada 4 jam sebelum dan sesudah pemberian suspensi OAT-KDT. Sedangkan kelompok V diberikan suspensi Curcuma. Perlakuan dilakukan selama 28 hari secara peroral. Setelah 24 jam pemberian, organ hati diambil dan kadar MDA diukur dengan spektrofotometri UV/Vis. Hasil pengukuran kadar MDA pada organ hati tikus menunjukkan bahwa pemberian OAT-KDT selama 28 hari dapat meningkatkan kadar MDA hati tikus sedangkan sediaan tea bag Paliasa mampu menurunkan kadar MDA hati tikus dibandingkan dengan kontrol negatif. Baik satu kali maupun dua kali pemberian sediaan tea bag Paliasa memperlihatkan penurunan MDA yang signifikan. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pemberian sediaan Tea Bag Paliasa efektif sebagai hepatoprotektif pada pemberian OAT-KDT selama 28 hari secara in vivo.
Keywords
Tea Bag Paliasa, MDA, OAT-KDT, hepatoprotektor
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Pramulani Mulya Lestari
Institutions
Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Jakarta
Abstract
Pati sagu digunakan sebagai gelling agent dalam pembuatan gel blush on ekstrak kayu secang karena warnanya yang jernih, dan dapat menghasilkan struktur gel yang kuat serta mudah didapatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi pati sagu terhadap stabilitas fisik sediaan gel blush on ekstrak kayu secang. Gel blush on dibuat dalam 4 formula dengan masing-masing konsentrasi pati sagu sebesar 4%, 5%, 6% dan 7%. Tiap formula dievaluasi selama 4 minggu penyimpanan yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, sifat alir, daya lekat, daya sebar, freeze-thaw selama 6 siklus, dan sentrifugasi. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel blush on ekstrak kayu secang memiliki warna merah bertekstur kental dan tidak berbau, homogen, pH berkisar 6,2 - 6,4, viskositas 10.000 - 15.000 Cps dengan sifat alir tiksotropik plastis, daya lekat berkisar 2-3 detik, daya sebar 5-6 cm, pada uji freeze-thaw dan sentrifugasi tidak terlihat terjadinya pemisahan fase. Maka, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi pati sagu sebagai gelling agent dapat meningkatkan stabilitas fisik sediaan gel blush on ekstrak kayu secang dan seluruh formula memenuhi syarat sebagai gel yang baik.
Keywords
Pati sagu, gel blush on, kayu secang
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Afni Panggar Besi
Institutions
Pascasarjana Biomedik fakultas kedokteran Universitas sriwijaya palembang
Abstract
Introduction: betel nut extract (Areca catechu L.), purwoceng (Pimpinella pruatjan) and ginseng (Panax ginseng) are known to have aphrodisiac effect. The aim of this research is to know the comparison of injected PLGA polymer nanoparticle substance as nanoparticle carrier of extract combination with the betel nut extract (Areca catechu L.), purwoceng (Pimpinella pruatjan) and ginseng (Panax ginseng) in which sub acutely causing the toxic effect on liver and kidney organ to the changes in blood biochemistry seen from SGPT, SGOT, Kreatinin and blood urea levels. Method: This research uses True experimental Design with pre-post-test only control group design. The production of betel nut extract combination substance (Areca catechu L.), purwoceng (Pimpinella pruatjan) and ginseng (Panax ginseng). The production of purwoceng and ginseng mixed nanoparticles substances with biodegradable polylactic-co-glycolic-acid (PLGA) and polyvinyl alcohol (PVA) polymers. Phytochemical tests of herbal extracts. The test animals in this study were male wistar rats aged 2-3 months which were injected with 3 dose levels of 1000 mg / kgBB, 500 mg / KgBB and 50 mg / KgBB orally for 28 days. On days 0 and 29 the blood of those animals were taken for measurement of SGPT, SGOT, Kreatinin and urea levels. The biochemical content obtained was then analyzed using One-way ANOVA and paired-T test. Result: The Betel nut Extract (Areca catechu L.), purwoceng (Pimpinella pruatjan) and ginseng (Panax ginseng) from result of phytochemical test containing flavonoid group compound. Results from the preparation of Nanoparticles on the optimum formula with% EE 90.703%; PSA 444.4 nm; PDI 0.310 and Zeta Potential -0.4 mV. The morphology of the nanoparticles is spherical. The blood biochemistry analysis measurement in the form of SGPT, SGOT, Kreatinin and urea obtained ANOVA value of 95% 0,267; 0,134; 0.586; 0,71 value p> 0.05 showed the giving of extract and nanoparticle still safe or still in normal limit and sig test value P Paired between 2 variables test of biochemical content p> 0.05 (95%) mean there is no difference between treatment before and after. Conclusions: The provision of either nanoparticle or betel nut extracts from the combination of betel nut, purwoceng and ginseng did not give toxic effect on liver and kidney organ to the changes in liver and kidney biochemistry seen from SGPT, SGOT, Kreatinin and urea levels. There was an absence of genetic kinship relation between the dosage of nanopartikel substance extract and the extract from a combination of betel nut, purwoceng and ginseng with sub acute toxicity effect on liver and kidney organ.
Keywords
ekstrak ramuan buah pinang (Areca catechu L.), purwoceng (Pimpinella pruatjan) dan ginseng (Panax ginseng), nanopartikel, uji toksistas, SGPT, SGOT, Kreatinin, Urea.
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Corresponding Author
Asnah Marzuki
Institutions
1 Laboratorium Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10, Tamalanrea, Makassar
2 Laboratorium Formulasi, Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10, Tamalanrea, Makassar
3 Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia, FakultasFarmasi, Universitas Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10, Tamalanrea, Makassar
Abstract
Sabun Banyuru (Pterospermium celebicum Miq) dan Lengkuas (Alpinia galanga) merupakan salah-satu sabun herbal yang saat ini telah diformulasi. Sabun ini berfungsi sebagai antiseptik untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan flavanoid sebagai zat aktif yang terkndung didalamnya. Pada penelitian ini akan dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis kadar flavanoid total pada sediaan sabun, yang bertujuan untuk mencari metode yang sesuai untuk penetapan kadar flavanoid total dalam sabun yang akan diterapkan pada sabun ekstrak kulit batang Banyuru (Pterospermium celebicum Miq) dan Lengkuas (Alpinia galanga). Parameter valiadasi yang digunakan pada penelitian ini meliputi uji spesifisitas, linearitas, rentang, uji presisi, dan uji akurasi dengan menggunakan baku kerja kuarsetin sebagai pembanding dan sabun placebo sebagai matriksnya. Metode yang telah valid selanjutnya diterapkan pada analisis kadar flavanoid total pada sabun Banyuru dan Lengkuas dengan menggunakan 5 formula dengan perbandingan banyuru dan lengkuas yaitu 1:3 , 1:1 , 3:1 , 1:0 dan 0:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini spesifik dan memiliki nilai linearitas yang sesuai standar yaitu 0,9996. Pada pengujian akurasi diperoleh nilai perolehan kembali yaitu 90.28-94.91%. Pada uji presisi diperoleh nilai RSD (simpangan baku relatif) sebesar 0,26 pada hari pertama dan 0,93 pada hari kedua. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa validasi metode analisis kadar flavanoid total dalam sabun secara spektrofotometri VIS dengan reagen AlCl3 memiliki spesifitas, linearitas, rentang, akurasi, dan presisi yang baik. Metode analisis yang valid selanjutnya diterapkan pada analisis kadar flavanoid total dari 5 formula sabun ekstrak kulit batang Banyuru dan Lengkuas, dan dari hasil tersebut diperoleh kadar flavanoid total sebesar 3,73 x10-3 mg/g, 1,42 x10-3 mg/g, 2,78 x10-3 mg/g, 1,22 x10-3 mg/g, dan 4,76 x10-3 mg/g.
Keywords
Flavanoid total , sabun, validasi, banyuru, lengkuas
Topic
Teknologi Formulasi Sediaan Bahan Alam
Page 1 (data 1 to 15 of 15) | Displayed ini 30 data/page
Featured Events
Embed Logo
If your conference is listed in our system, please put our logo somewhere in your website. Simply copy-paste the HTML code below to your website (ask your web admin):
<a target="_blank" href="https://ifory.id"><img src="https://ifory.id/ifory.png" title="Ifory - Indonesia Conference Directory" width="150" height="" border="0"></a>Site Stats